Pengenalan Bahan Tambang: Bauksit

Selasa, 25 November 2008



BAUKSIT


Bauksit merupakan bahan yang heterogen, yang mempunyai mineral dengan susunan terutama dari oksida aluminium, yaitu berupa mineral buhmit (Al2O3H2O) dan mineral gibsit (Al2O3 .3H2O). Secara umum bauksit mengandung Al2O3 sebanyak 45-65%, SiO2 1-12%, Fe2O3 2-25%, TiO2 >3%, dan H2O 14-36%. Bauksit merupakan kelompok mineral aluminium hidroksida yang dalam keadaan murni berwarna putih atau kekuningan. Bahan galian yang ditambang dengan menggunakan shovel ini, pabila dicampur dengan bahan mineral lain, semisal chrome, baja, atau nikel, menghasilkan aluminium yang sangat bagus (Alloy). Aluminium ini tahan panas, kuat namun lentur dan mudah dibentuk. Untuk, onderdil otomotif, perkapalan dan industri pesawat terbang, menggunakan bauksit secara massif.



Bauksit yang terkandung di bumi nusantara, jenis mineralnya adalah gibsit, dengan kadar utama alumina, kuarsa, dan silika aktif. Biji bauksit laterit terjadi di daerah tropis dan sub tropis serta membentuk perbukitan landai, yang memungkinkan terjadinya pelapuk yang cukup kuat. Bauksit terbentuk dari batuan yang mempunyai kadar aluminium tinggi, kadar Fe rendah dan sedikit kadar kuarsa bebas.
Batuan yang memenuhi persyaratan itu antara lain nepelin syenit dan sejenisnya yang berasal dari batuan beku, batuan lempung/ serpih. Batuan itu akan mengalami proses laterisasi (proses pertukaran suhu secara terus menerus sehingga batuan mengalami pelapukan). Di Indonesia, bauksit tersebar di Pulau Bintan, Bangka, Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat.





Untuk menggali bauksit, dilakukan dengan metode land clearing (mengupas pohon dan semak di permukaan tanah, atau pengupasan tanah penutup). Alat-alat berat macam buldozer, biasa dipakai untuk melakukan pengupasan tersebut. Sementara lapisan bijih bauksit digali dengan shovel, diangkut dengan dump truck untuk dimasukan ke dalam instalasi pencucian. Setelah dicuci (desliming) yang berfungsi memisahkan bijih bauksit dari unsur lain seperti pasir atau lempung kotor, maka dilakukan proses penyaringan (screening).

Bersamaan dengan itu dilakukan pemecahan (size reduction) dari butiran-butiran yang berukuran lebih dari 3 inchi dengan jaw cruscher. Setelahnya, barulah memasukai tahap pengolahan dengan proses bayer (teknik pemurnian bauksit). Berapa angka produksi bauksit yang ditambang dari perut bumi? Cukup banyak, tentu saja. Hal itu guna memenuhi pasokan kebutuhan berbagai industri yang menggunakan bauksit. Volume yang cukup besar itu juga demi melayani permintaan ekspor dari negara lain, seperti Jepang, India, dan beberapa negara di Eropa.

PENGUSAHAAN TAMBANG BAUKSIT DI KABUPATEN LANDAK.

Pengusahaan bahan tambang bauksit di Kabupaten Landak sudah banyak di dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan tambang. Berdasarkan data kami, sudah lebih dari 20 perusahaan pertambangan yang aktif dan beberapa yang masih menunggu ijin untuk mengusahakan baukit di Kabupaten Landak dengan tahapan mulai dari penyelidikan Umum hingga ekplorasi. Kita berharap dengan hadirnya perusahaan tambang yang berinvestasi di Kabupaten Landak ini dapat mensejahterakan masyarakat di kabupaten Landak khususnya. Pengusahaan tambang bauksit ini juga dapat membantu menambah pemasukan bagi negara dari sektor tambang.

Sumber :
http://klastik.wordpress.com
htto://www.borneoedo.com

Cetak Halaman Ini

Baca selengkapnya......

Permasalahan PETI di Kabupaten Landak

PETI DI KABUPATEN LANDAK


Seperti kita ketahui bahwa penambangan liar atau PETI merupakan suatu dilema di daerah manapun. Selain tidak memiliki ijin pertambangan dari pemerintah, biasanya penambangan liar juga mengakibatkan gangguan lingkungan dikarenakan proses penambangan yang tidak berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk pelestarian lingkungan serta akibat yang dapat terjadi bagi kesehatan masyarakat disekitar tempat aktivitas penambangan liar tersebut berada.



Demikian juga yang terjadi di Kabupaten Landak, penambangan liar banyak kita jumpai di beberapa kecamatan. Para penambang liar tersebut biasanya mencari emas dan intan yang memang komoditi bahan galian ini banyak di jumpai di Kabupaten Landak. Istilah yang dipergunakan untuk aktivitas penambangan liar ini adalah “Dompeng” yang mengambil istilah dari mesin yang digunakan untuk kegiatan tersebut.




Dampak langsung yang ditimbulkan akibat aktivitas ini adalah tercemarnya sungai-sungai yang sangat diperlukan bagi kehidupan masyarakat. Air sungai menjadi keruh dan tidak dapat dipergunakan untuk keperluan masyarakat sehari-hari. Belum lagi akibat yang akan ditimbulkan berkenaan penggunaan bahan kimia yang berbahaya yang diperlukan untuk kegiatan tersebut. Untuk pencemaran sungai sendiri, hal ini sudah mulai terasa seperti di Kecamatan Mandor dan beberapa kecamatan lainnya. Di Kecamatan Mandor misalnya, jika beberapa tahun yang lalu masyarakat disana masih bisa mandi dan mencuci menggunakan air sungai, namun saat ini hampir tidak ada lagi air sungai yang dapat dipergunakan untuk aktivitas masyarakat sehari-hari. Kalau sudah begini, kan masyarakat juga yang menanggung akibatnya.

Dinas terkait, dalam hal ini khususnya dinas Pertambangan, Energi dan Lingkungan Hidup Kabupaten Landak bukannya tutup mata pada aktivitas penambangan liar tersebut. Tiap tahun selalu diadakan penyuluhan hingga penertiban, namun sepertinya hasil yang diharapkan masih kurang berhasil. Pihak Dinas Pertambangan Kabupaten Landak bertekat untuk selalu memerangi penambangan liar tersebut, hal ini juga tentunya perlu didukung oleh banyak pihak, diantaranya selain pemerintah sendiri, juga masyarakat disekitar daerah tempat aktivitas penambangan liar tersebut berada.

Cetak Halaman Ini

Baca selengkapnya......

Pengenalan Bahan Tambang : Emas




EMAS DAN PROSES TERJADINYA

Tentu Kita semua sudah mengetahui apakah emas itu. Yang paling umum emas biasanya dipakai oleh hampir semua kaum wanita sebagai perhiasan, namun banyak diantara kita tentu belum mengetahui proses terbentuknya emas. Disini kita akan belajar sedikit tentang proses terjadinya emas.
Emas merupakan elemen yang dikenal sebagai logam mulia dan komoditas yang sangat berharga sepanjang sejarah manusia. Elemen ini memiliki nomor atom 79 dan nama kimia aurum atau Au. Emas termasuk golongan native element, dengan sedikit kandungan perak, tembaga, atau besi. Warnanya kuning keemasan dengan kekerasan 2,5-3 skala Mohs. Bentuk kristal isometric octahedron atau dodecahedron. Specific gravity 15,5-19,3 pada emas murni. Makin besar kandungan perak, makin berwarna keputih-putihan.





Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian secara mekanis menghasilkan endapan letakan (placer). Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu endapan primer dan endapan plaser.
Emas terdapat di alam dalam dua tipe deposit, pertama sebagai urat (vein) dalam batuan beku, kaya besi dan berasosiasi dengan urat kuarsa. Lainnya yaitu endapan atau placer deposit, dimana emas dari batuan asal yang tererosi terangkut oleh aliran sungai dan terendapkan karena berat jenis yang tinggi. Emas native terbentuk karena adanya kegiatan vulkanisma, bergerak berdasarkan adanya thermal atau adanya panas di dalam bumi, tempat tembentukan emas primer, sedangkan sekudernya merupakan hasil transportasi dari endapan primer umum disebut dengan emas endapan flaser, sedangkan asosiasi emas atau emas bersamaan hadir dengan mineral silikat, perak, platina, pirit dan lainnya

Kenampakan fisik bijih emas hampir mirip dengan pirit, markasit, dan kalkopirit dilihat dari warnanya, namun dapat dibedakan dari sifatnya yang lunak, berat jenis tinggi, dan ceratnya yang keemasan. Emas berasosiasi dengan kuarsa, pirit, arsenopirit, dan perak.

Sifat fisik unsur ini sangat stabil, tidak korosif ataupun lapuk dan jarang bersenyawa dengan unsur kimia lain. Konduktivitas elektrik dan termalnya sangat baik, malleable sehingga dapat dibentuk dan juga bersifat ductile. Emas adalah logam yang paling tinggi densitasnya.

Selain itu, emas sering ditemukan dalam penambangan bijih perak dan tembaga. Penambangan emas dilakukan besar-besaran untuk memenuhi permintaan dunia, diantaranya ditambang di Afsel, Autralia, USA, Meksiko, Brasil, Indonesia, dan negara lainnya. Penggunaan utama emas adalah untuk bahan baku perhiasan dan benda-benda seni. Selain itu, karena konduktif, emas penting dalam aplikasi elektronik. Kegunaan lain ada di bidang fotografi, pigment, dan pengobatan.

PERBEDAAN EMAS DENGAN PIRIT




Orang sering mengira penampakan pirit sebagai emas, yang kilapnya memang menyerupai emas. Kadang ada yang bertanya, apakah pirit ini emas? Atau apakah pirit ini mengandung emas?.


Pirit dengan rumus kimia FeS2, merupakan salah satu dari jenis mineral sulfida yang umum dijumpai di alam, entah sebagai hasil sampingan suatu endapan hidrotermal ataupun sebagai mineral asesoris dalam beberapa jenis batuan. Tidak ada penciri mineralisasi tertentu jika anda menjumpai pirit, apalagi sedikit. Secara deskriptif, pirit ini mempunyai warna kuning keemasan dengan kilap logam. Jadi, kalau tidak biasa dengan mineral-mineral logam, sering menganggapnya sebagai emas.
Secara struktur kristal, baik pirit dan emas sama-sama kubis, namun sifat dalamnya yang berbeda. Emas lebih mudah ditempa daripada pirit. Kalau dipukul, pirit akan hancur berkeping-keping, sedangkan emas tidak mudah hancur karena lebih mudah ditempa (maleable).





Cara yang cukup mudah untuk membedakan emas dengan pirit adalah dengan melihat asahan polesnya di bawah mikroskop. Biasanya di bawah mikroskop pantul, emas tampak berbentuk tak beraturan dibandingkan pirit yang kadang bentuk kubisnya masih tampak. Meskipun sama-sama isotropik, tetapi kecemerlangan emas tidak dapat ditandingi oleh pirit, begitu juga bentuknya. Cara lain yang lebih canggih adalah dengan menganalisis kandungan kimianya, misalnya dengan microprobe atau SEM plus EDX. Dengan cara ini anda bisa memastikan apakah yang anda sebut pirit itu emas atau pirit?

Apakah pirit mengandung emas? Mungkin saja emas terdapat di dalam pirit, sebagai yang dikenal dengan istilah refractory gold. Emas ini ukurannya sangat kecil atau sering dikatakan sebagai invisible gold, karena ukurannya <0.1 μm, tidak sanggup dideteksi dengan mikroskop elektron. Emas ini biasanya hadir bersama-sama arsen (arsenian pyrite atau arsenopyrite).

Sumber :
http://nooradinugroho.wordpress.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Emas
http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Emas/...

Cetak Halaman Ini

Baca selengkapnya......

Inventarisasi dan Evaluasi Mineral non Logam di daerah Kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat

Sugeng Priyono; Nazly Bahar; Moch. Sodik Kaelani; Supomo; Heru Susilo
Kelompok Program Penelitian Mineral

S A R I


Inventarisasi Dan Evaluasi Mineral Non Logam di daerah Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, hingga Desember 2006, terdapat bahan galian yang dapat dikembangkan berdasarkan sumber daya hipotetik, sebagai berikut :

Sumber daya hipotetik andesit (L-An-01 sampai dengan L-An-04), sebesar 55.450.000 m3 (144.300.000 Ton), dapat digunakan untuk bahan bangunan konstruksi menengah hingga berat. Sumber daya hipotetik bahan galian basal (L-Ba-01 sampai dengan L-Ba-02), sebesar 9.640.000 m3 (25.000.000 Ton), dapat digunakan untuk bahan bangunan konstruksi menengah hingga berat dan batuan ornamen.



Sumber daya hipotetik granit (L-Gr-01 sampai dengan L-Gr-07), sebesar 96.400.000 m3 (257.300.000 Ton), dapat digunakan untuk batu berdimensi, ubin interior dan eksterior, bahan bangunan konstruksi menengah hingga berat serta batuan ornamen.
Sumber daya hipotetik granodiorit (L-Gd-01 sampai dengan L-Gd-06), sebesar 92.080.000 m3 (243.925.000 Ton), dapat digunakan untuk batu berdimensi, ubin interior dan eksterior, bahan bangunan konstruksi menengah hingga berat serta batuan ornamen. Sumber daya hipotetik diorit (L-Dio-01 sampai dengan L-Dio-04), sebesar 60.900.000 m3 (161.540.000 Ton), dapat digunakan untuk batu berdimensi, ubin interior dan eksterior, bahan bangunan konstruksi menengah hingga berat serta batuan ornamen.

Sumber daya hipotetik pasir dan batu / sirtu, (L-Gra-01 sampai dengan L-Gra-04), sebesar 4.715.000 m3 (9.825.000 Ton), untuk bahan bangunan konstruksi menengah hingga berat. Sumber daya hipotetik pasir darat, (L-Ss-01 sampai dengan L-Ss-03), sebesar 1.131.000 m3 (2.345.000 Ton), untuk bahan bangunan konstruksi ringan hingga menengah serta batuan ornamen. Sumber daya hipotetik pasirkuarsa, (L-Si-01 sampai dengan L-Si-03), sebesar 8.240.000 m3 (18.400.000 Ton), dapat digunakan untuk bahan baku industri semen portland dan kaca berwarna. Sumber daya hipotetik lempung, (L-Cly-01 sampai dengan L-Cly-10), sebesar 24.305.500 m3 (32.840.000 Ton), dapat digunakan untuk bahan baku industri keramik dan semen portland. Sumber daya hipotetik intan letakan, (L-Di-01) belum dapat dihitung, cukup baik digunakan untuk bahan baku perhiasan (permata).
Sumber daya hipotetik pasir zirkon, (L-Zr-01 sampai dengan L-Zr-03), belum dapat dihitung, cukup baik digunakan untuk bahan baku industri keramik berteknologi tinggi.

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kegiatan Inventarisasi dan Evaluasi Mineral Non Logam Tahun 2006, dalam hal ini Sub Kelompok Kerja Mineral Non Logam, Kelompok Kerja Mineral, Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi, Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, telah mengadakan kegiatan Inventarisasi dan Evaluasi Mineral Non Logam di beberapa kabupaten, antara lain Kabupaten Landak dan Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Kegiatan tersebut diharapkan menjadikan komoditi Mineral Non Logam sebagai pendamping sumber pendapatan negara, disamping untuk peningkatan dan pemutakhiran data mineral non logam yang prospek dapat segera di kembangkan hingga bernilai ekonomis guna mengupayakan peningkatan pendapatan daerah (PAD) melalui ekspor non migas dan mengurangi impor non migas.

1.2 Maksud dan Tujuan

Mendapatkan data baik primer maupun sekunder mengenai mineral non logam di daerah Kabupaten Landak dan Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, secara lebih akurat dan aktual. Mempelajari kemungkinan penyebaran dan perkiraan besarnya potensi sumber daya. Memilih dan mengevaluasi komoditi mineral non logam yang bernilai ekonomi, atau menjadi unggulan, berprospek baik untuk dapat segera dikembangkan dan dimanfaatkan. Pemutakhiran data dasar dalam bank data mineral, dalam bentuk spasial ataupun digital. Bahan pertimbangan para pengambil keputusan dalam rangka penyusunan master plan, pengembangan potensi dalam sektor bahan galian mineral, sejalan dengan perkembangan teknologi informasi agar dapat diakses secara cepat dan mudah setiap saat disertai nilai akurasi yang tinggi serta volume data yang maksimal, sehingga pihak investor dengan cepat dapat mengambil keputusan untuk menanamkan modalnya.


1.3 Lokasi Daerah Penyelidikan


Secara administratif lokasi daerah penyelidikan berada di dalam Kabupaten Landak dan Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Secara geografis Kabupaten Landak terletak di antara meridian : 109° 13' 25,52" BT sampai 110° 15' 47.27" BT hingga 0° 3' 37.89" LS sampai 1° 3' 13.12" LS, seluas 7.943 Km2.



2. G E O L O G I

2.1 Stratigrafi Daerah Penyelidikan


Berdasarkan Peta Geologi Bersistem yang telah dipublikasikan, berturut-turut dari tua ke muda formasi batuan tersebut adalah :

Batuan Malihan Pinoh (PzTRp) :

Merupakan batuan tertua terdiri dari batusabak, batutanduk, filit dan kuarsit, berfasies sekis hijau, terlineasi kuat, berbintik andalusit, mengalami ubahan serisit, sebagian besar tersesarkan, terbreksikan dan tergeruskan kuat, berumur Kapur Awal.

Kelompok Balaisebut (CTrb) :
Terdiri dari batulumpur, batulanau dan batupasir menyabak, termalihkan; serpih, kuarsit, filit, sekis, marmer dan rijang, berumur Karbon-Perem.

Komplek Granit Embuoi (PTRe) :
Terdiri dari granit, granodiorit yang mengintrusi sekis, batuan volkanik mafik dan amfibolit ; mempunyai kisaran umur Perem-Trias, dari data Kalium-Argon berumur 204-263 juta tahun.

Batuan Volkanik Jambu (TRuj) :
Terdiri dari lava basal, lava andesit, breksi andesitik-basaltik, breksi polimik, aglomerat dan tuf terubah, masa dasar berupa tufa kasar terkloritkan, terkersikkan dan terlimonitkan, berumur Trias Akhir.

Batuan Gunungapi Serian (TRuse) :

Terdiri dari lava dasit, basal dan lava andesit terubah, terkekarkan kuat ; breksi andesitik-basaltik, aglomerat, tuf, intrusi andesit, basal, trakhit dan dasit, berumur Trias Akhir.

Formasi Sadong (TRus) :
Terdiri dari perselingan antara batupasir terkersikkan, arkosa, serpih, konglomerat dan tuf, berumur Trias Akhir.

Kelompok Bengkayang (TRjb) :
Terdiri dari perselingan antara batupasir tufaan, batupasir litik, tufa, serpih,kongomerat, batulanau dan batulumpur, berumur Trias Akhir - Jura Awal.

Formasi Brandung (Jmb) :
Terdiri dari perselingan antara serpih, batu-pasir, batulumpur gampingan, batugamping dan batulempung, berumur Jura Tengah.

Granit Laur (Kll) :
Didominasi oleh monzogranit berwarna terang yang berangsur berubah menjadi granodiorit dan sienogranit, berbutir menengah dan mengalami ubahan; mempunyai kisaran umur Jura akhir - Kapur Awal, dari data Kalium-Argon berumur 103 juta tahun.

Batuan Gunungapi Raya (Klr) :
Terdiri dari intrusi andesitik-basaltik, lava andesit, dasit dan basal, aliran piroklastik, konglomerat, batupasir dan batulumpur terubah oleh intrusi berumur Kapur serta Tersier, termineralisasi pirit, kalkopirit, molibdenit arsenopirit dan spalerit; berumur Kapur Awal, dari data Kalium-Argon berumur 106 juta tahun.

Granodiorit Mensibau (Klm) :
Didominasi oleh granodiorit berwarna terang, granodiorit hornblenda, diorit kuarsa, granit, monzonit, mengalami ubahan dan terdeformasi; mempunyai kisaran umur Kapur Awal, dari data Kalium-Argon berumur 116, 120 dan 128 juta tahun.

Formasi Pedawan (Kp) :

Terdiri dari perselingan antara batupasir, batulanau, batulumpur, serpih, tuf, batugamping dan batulempung, umumnya bersifat gampingan, sebagian karbonan serta tufaan ; berumur Kapur.

Kelompok Selangkai (Kse) :
Terdiri dari perselingan antara batulumpur gampingan, batupasir, batulanau, batu-gamping, batulempung, batulumpur kerakalan dan bancuh, umumnya terdeformasi secara kuat; Kisaran umur dari Kapur Tengah hingga Kapur Akhir.

Batupasir Kayan (TKk) :
Terdiri dari perselingan antara batupasir kuarsa litik, batupasir kuarsa-felspar, setempat kerakalan, bersisipan batulanau kemerahan, serpih, konglomerat, batubara, kayu terkersikkan dan terpiritkan; Kisaran umur dari Kapur Akhir hingga Tersier Awal.

Formasi Ingar (Tel) ; Batupasir Dangkan (Ted) ; Serpih Silat (Teu) yang tidak terpisahkan :
Terdiri dari perselingan antara batulumpur gampingan kelabu, batulanau dan batupasir halus serta batulempung di bagian atas dan biasanya karbonan; Kisaran umur dari Kapur Akhir hingga Eosen Akhir.

Formasi Kantu (Teka) :
Terdiri dari perselingan antara batupasir kuarsa felsparan mikaan, batulanau karbonan, batulumpur, dan sisipan batubara; Kisaran umur dari Eosen Tengah hingga Eosen Akhir.

Batupasir Tutoop (Tetu) :
Terdiri dari perselingan antara batupasir litik, batupasir kuarsa, setempat lapisan konglomerat dan batulumpur ; Kisaran umur dari Eosen Akhir bagian Akhir.

Formasi Ketungau (Teke) :
Terdiri dari perselingan antara batulanau, batupasir, batulumpur, berlapis baik bersifat karbonan, mengandung glaukonit dan rembesan minyak, serta kongkresi oksida besi; Kisaran umur dari Eosen Akhir bagian Akhir.

Formasi Payak (Teop - Tepa) :
Terdiri dari perselingan antara batupasir tufaan, batupasir felsparan, batupasir litarenit, batulanau dan batulumpur; Kisaran umur dari Eosen Akhir.

Formasi Tebidah (Tot) :
Terdiri dari perselingan antara batupasir berlapis tebal, pemilahan baik, termalihkan, dengan batupasir lanauan, batulanau pasiran dan batulumpur, bersisipan batubara; Kisaran umur dari Eosen Akhir Oligosen Awal.

Batupasir Sekayam (Tos) :
Terdiri dari perselingan antara batupasir felsparan berbutir menengah hingga kasar, batupasir arenit litik kehijauan, kerakalan terdiri dari fragmen kuarsa batuan andesitik, basaltik, dan kuarsit meta ; bersisipan batulumpur dan batubara; Kisaran umur dari Oligosen Awal hingga Oligosen Tengah.

Batupasir Landak (Tola) :
Terdiri dari perselingan antara batupasir kuarsa dan batupasir litik, berbutir menengah hingga kasar, terpilah buruk, kerakalan, berselingan dengan konglomerat dan batulumpur karbonan; Kisaran umur dari Oligosen Tengah hingga Akhir.

Batuan Intrusi Sintang (Toms) :
Didominasi oleh granodiorit, diorit kuarsa, andesit piroksen, dasit, tekstur porfiritik, berbutir halus hingga menengah; melanokratik hingga leukokratik, umumnya intrusi mikrodiorit porfir, andesit piroksen atau granodiorit dengan fenokris hornblenda, piroksen, felspar dan kuarsa; mempunyai kisaran umur Miosen Awal - Tengah.

Batuan Gunungapi Niut (Tpn) :
Didominasi oleh basal, andesit piroksen, trakhibasal vesikuler, porfiritik, plagioklas, ortho dan klinopiroksen, fenokris olivin, masadasar felspar dan gelas dengan analsit sub alkalin sampai alkalin; kisaran umur Pliosen - Plistosen ; dari data Kalium-Argon menunjukkan umur 4,4 juta tahun.

Aluvium (Qa) :
Endapan Aluvium (Qa), berumur Kuarter, terutama terdiri dari akumulasi endapan kerakal, kerikil, pasir, lanau, lumpur dan lempung serta sisa tetumbuhan, setempat mengandung partikel emas plaser dan butiran intan sekunder, terutama di daerah aliran dan aluvium Sungai Landak serta cabang-cabangnya.

3. HASIL PENYELIDIKAN

3.1 Bahan Galian Non Logam Di Daerah Kabupaten Landak :


Bahan Galian Bangunan :
Bahan galian andesit, basal dan diorit, merupakan salah satu anggota dari Batuan Volkanik Niut (Tpn), Batuan Volkanik Raya (Klr) dan Batuan Volkanik Serian (TRuse);
Bahan galian granit, merupakan salah satu anggota dari Terobosan Sintang (Toms), Komplek Granit Mensibau (Klm), Komplek Granit Laur (Kll) dan Komplek Granit Embuoi (PTRe); Bahan galian granodiorit, merupakan salah satu anggota dari Komplek Granit Mensibau (Klm) dan Tonalit Sepauk (Kls); Bahan galian sirtu, antara lain terdapat bersama-sama dengan akumulasi material dalam Endapan Aluvial Sungai (Qa) dan Aluvial Tertoreh (Qt).

Bahan Galian Keramik :
Bahan galian lempung, antara lain berupa lensa dan sisipan dalam Formasi Batupasir Sekayam (Tos), Formasi Batupasir Landak (Tola), Formasi Batupasir Tebidah (Tot), Formasi Payak (Teop), Formasi Batupasir Kayan (TKk) dan Formasi Kantu (Teka). Bahan Galian pasirkuarsa, antara lain berupa sisipan atau hasil pelapukan dari Formasi Batupasir Landak (Tola), Formasi Batupasir Sekayam (Tos), Formasi Batupasir Dangkan (Ted), Formasi Haloq (Teh) dan Formasi Batupasir Tutoop (Tetu). Bahan galian pasir zirkon, antara lain berupa partikel hasil rombakan batuan berkomposisi granitik yang terperangkap dalam Endapan Aluvium Sungai (Qa) dan Aluvial Tertoreh (Qt).

Bahan Galian Batumulia :
Bahan Galian jasper dan intan, antara lain terdapat berupa material rombakan dalam endapan letakan (plaser) salah satu bagian dari akumulasi Endapan Aluvial Sungai (Qa), Aluvial Tertoreh (Qt), Formasi Batupasir Landak (Tola) dan Formasi Batupasir Sekayam (Tos).

4. KESIMPULAN

Bahan galian Non Logam yang dapat dikembangkan di Kabupaten Landak :

Andesit di daerah-daerah :
Ampadi, Desa Bentiang, Kecamatan Air Besar (L-An-01), Sumberdaya Hipotetik 14.400.000 m3 (37.500.000 Ton). Engkanging, Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar (L-An-02), Sumberdaya Hipotetik 10.500.000 m3 (27.450.000 Ton). Sempatung, Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar (L-An-03), Sumberdaya Hipotetik 18.700.000 m3 (48.600.000 Ton). Temahar, Desa Nyayum, Kecamatan Kuala Behe (L-An-04), Sumberdaya Hipotetik 6.600.000 m3 (17.150.000 Ton). Aur Sampuk Paloan, Desa Pahauman, Kecamatan Sengah Temila (L-An-05), Sumberdaya Hipotetik 5.250.0000 m3 (13.600.000 Ton).

Basal di daerah-daerah :
Sei Kendal Semuntik, Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar (L-Ba-01), Sumberdaya Hipotetik 3.460.000 m3 (9.000.000 Ton). Parigi Baban, Desa Tanjung, Kecamatan Mempawah Hulu (L-Ba-02), Sumberdaya Hipotetik 6.180.000 m3 (16.000.000 Ton).

Granit di daerah-daerah :
Turap, Dusun Kaseh, Desa Jelimpo, Kecamatan Ngabang (L-Gr-01), Sumberdaya Hipotetik 27.000.000 m3 (73.500.000 Ton). Jambu Tembawang, Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar (L-Gr-02), Sumberdaya Hipotetik 12.350.000 m3 (32.750.000 Ton). Sei Lange Meranti, Desa Ampadi, Kecamatan Kuala Behe (L-Gr-03), Sumberdaya Hipotetik 11.000.000 m3 (29.000.000 Ton). Sidan Songga, Desa Darit, Kecamatan Nenyuke (L-Gr-04), Sumberdaya Hipotetik 2.400.000 m3 (6.400.000 Ton). Sabaka Baktimulya, Desa Tanjung, Kecamatan Mempawah Hulu (L-Gr-05), Sumberdaya Hipotetik 16.500.000 m3 (43.700.000 Ton). Nangka Tempoyak, Desa Rees, Kecamatan Menjalin (L-Gr-06), Sumberdaya Hipotetik 14.300.000 m3 (37.850.000 Ton). Paloan, Desa Pahauman, Kecamatan Sengah Temila (L-Gr-07), Sumberdaya Hipotetik 12.850.000 m3 (34.100.000 Ton).

Granodiorit di daerah-daerah :
Sei Muntik Temoyok, Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar (L-Gd-01), Sumberdaya Hipotetik 24.750.000 m3 (65.580.000 Ton). Ampadi, Desa Sutipadang Serimbu, Kecamatan Air Besar (L-Gd-02), Sumberdaya Hipotetik 18.800.000 m3 (49.800.000 Ton). Gamang Ladangan, Desa Darit, Kecamatan Nenyuke (L-Gd-03), Sumberdaya Hipotetik 23.900.000 m3 (63.400.000 Ton). Garu Pahong, Desa Tanjung, Kecamatan Mempawah Hulu (L-Gd-04), Sumberdaya Hipotetik 9.650.000 m3 (25.575.000 Ton). Sei Pahat Sepang, Desa Karangan, Kecamatan Menjalin (L-Gd-05), Sumberdaya Hipotetik 5.500.000 m3 (14.570.000 Ton). Aur Sampuk Senakin, Desa Pahauman, Kecamatan Sengah Temila (L-Gd-06), Sumberdaya Hipotetik 9.480.000 m3 (25.000.000 Ton).

Diorit di daerah-daerah :
Ta'ahu, Desa Selange, Kecamatan Nenyuke (L-Dio-01), Sumberdaya Hipotetik 12.200.000 m3 (32.350.000 Ton). Ansiap, Desa Suak Berangan, Kecamatan Menjalin (L-Dio-02), Sumberdaya Hipotetik 8.250.000 m3 (21.850.000 Ton). Sidas, Desa Keranji Mancal, Kecamatan Sengah Temila (L-Dio-03), Sumberdaya Hipotetik 24.300.000 m3 (64.490.000 Ton). Andeng, Desa Gombang, Kecamatan Sengah Temila (L-Dio-03), Sumberdaya Hipotetik 16.150.000 m3 (42.850.000 Ton).

Pasir dan batu (sirtu) di daerah-daerah :
Temiwang Sawi, Desa Ambayo Selatan, Kecamatan Ngabang (L-Gra-01), Sumberdaya Hipotetik 1.000.000 m3 (2.125.000 Ton). Paloan, Desa Keranji Panjang, Kecamatan Sengah Temila (L-Gra-02), Sumberdaya Hipotetik 725.000 m3 (1.500.000 Ton).
Bagak Mamik, Desa Anik, Kecamatan Nenyuke (L-Gra-03), Sumberdaya Hipotetik 990.000 m3 (2.000.000 Ton). Tanjung Balai, Desa Muara Behe, Kecamatan Kuala Behe (L-Gra-04), Sumberdaya Hipotetik 2.000.000 m3 (4.200.000 Ton).

Pasir darat di daerah-daerah :
Sei Birang, Desa Sebatih, Kecamatan Sungai Ambawang (L-Ss-01), Sumberdaya Hipotetik 275.000 m3 (575.000 Ton). Sei Kelli, Desa Penyaho Dangku, Kecamatan Ngabang (L-Ss-02), Sumberdaya Hipotetik 490.500 m3 (1.000.000 Ton). Paloan, Desa Pahauman, Kecamatan Sengah Temila (L-Ss-03), Sumberdaya Hipotetik 365.500 m3 (770.000 Ton).

Pasir kuarsa di daerah-daerah :
Sungai Birang, Desa Balai Peluntan, Kecamatan Ngabang (L-Si-01), Sumberdaya Hipotetik 2.400.000 m3 (5.400.000 Ton). Muun, Desa Ambarang, Kecamatan Kuala Behe (L-Si-02), Sumberdaya Hipotetik 2.840.000 m3 (6.000.000 Ton). Tolok, Desa Meranti, Kecamatan Nenyuke (L-Si-03), Sumberdaya Hipotetik 3.000.000 m3 (7.000.000 Ton).

Lempung di daerah-daerah :
Dusun Kaseh, Desa Jelimpo, Kecamatan Ngabang (L-Cly-01), Sumberdaya Hipotetik 1.200.000 m3 (1.600.000Ton). Dusun Nyi'in, Desa Tubang, Kecamatan Ngabang (L-Cly-02), Sumberdaya Hipotetik 1.875.500 m3 (2.500.000 Ton). Hilir Tengah, Desa Tebedak, Kecamatan Ngabang (L-Cly-03), Sumberdaya Hipotetik 1.580.000 m3 (2.140.000 Ton). Dusun Raja, Desa Ambarang, Kecamatan Ngabang (L-Cly-04), Sumberdaya Hipotetik 1.900.000 m3 (2.580.000 Ton). Dusun Kersik, Desa Engkadu, Kecamatan Kuala Behe (L-Cly-05), Sumberdaya Hipotetik 2.750.000 m3 (3.700.000 Ton). Pedataran Desa Muara Behe, Kecamatan Kuala Behe (L-Cly-06), Sumberdaya Hipotetik 2.400.000 m3 (3.250.000 Ton). Banying, Desa Sidas, Kecamatan Sengah Temila (L-Cly-07), Sumberdaya Hipotetik 3.400.000 m3 (4.600.000 Ton). Gombang, Desa Anik, Kecamatan Nenyuke (L-Cly-08), Sumberdaya Hipotetik 1.800.000 m3 (2.470.000 Ton). Padangpio, Desa Darit, Kecamatan Nenyuke (L-Cly-09), Sumberdaya Hipotetik 7.400.000 m3 (10.000.000 Ton). Dusun Gombang, Desa Keranji Panjang, Kecamatan Sengah Temila (L-Cly-10), Sumberdaya Hipotetik 8.160.000 m3 (11.000.000 Ton).

Jasper di daerah-daerah :
Kedama, Desa Muara Behe, Kecamatan Kuala Behe (L-Jas-01), Sumberdaya Hipotetik 115 m3 (260 Ton). Desa Sebatih, Kecamatan Sungai Ambawang (L-Jas-02), Sumberdaya Hipotetik 200 m3 (450 Ton).

Intan letakan di daerah :
Dusun Pantek, Desa Tebedak, Kecamatan Ngabang (L-Di-01), berupa indikasi dalam Endapan Aluvial Purba Sungai Landak dan anak-anak sungainya, pernah dijumpai intan letakan berukuran butir biji kacang hijau hingga biji jagung, terdapat bersama mineral berat mengandung zirkon dan logam mulia, kegiatan penggalian dan pendulangan masih berlangsung oleh masyarakat secara kecil-kecilan, tradisional dan temporer, sebagian kecil dibantu pompa air bermesin. Sumberdaya Hipotetik belum diketahui.

Pasir zirkon di daerah-daerah :
Demuan, Hilir Tengah, Desa Tebedak, Kecamatan Ngabang (L-Zr-01), Sumberdaya Hipotetik lapisan pembawa pasir zirkon 11 m3 (31 Ton). Sei Pantek, Ambayo, Desa Tebedak, Kecamatan Ngabang (L-Zr-02), Sumberdaya Hipotetik lapisan pembawa pasir zirkon 6 m3 (17 Ton). Sei Ruang Baam, Dusun Engkalong, Desa Nyayum, Kecamatan Ngabang (L-Zr-03), Sumberdaya Hipotetik lapisan pembawa pasir zirkon 7,5 m3 (21 Ton).



Sumber: Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral “ Inventarisasi dan Evaluasi Mineral non Logam di Daerah Kabupaten Landak dan Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat.”
http://www.dim.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=474&Itemid=479



Cetak Halaman Ini

Baca selengkapnya......

Profil dan Informasi Pertambangan Kabupaten Landak, Kalbar



I. GAMBARAN UMUM DAERAH

A. KondisiI Fisik dan Demografi


Kabupaten Landak secara geografis posisinya terdapat di bagian tengah Propinsi Kalbar dengan luas wilayah 9.909,10 Km2 atau 6,75% dari luas keseluruhan propinsi Kalimantan Barat yang terbagi atas 13 Kecamatan, yaitu Ngabang, Sengah Temila, Menyuke, Menjalin, Mandor, Mempawah Hulu, Meranti, Kuala Behe, Air Besar, Sebangki, Menyuke Hulu, Jelimpo dan Sompak.

Terbentuknya Kabupaten Landak berdasarkan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 55 tahun 1999 tanggal 4 Oktober 1999. Pertimbangan pokok terbentuknya Kabupaten Landak adalah bahwa berhubungan dengan perkembangan dan kemajuan Propinsi Kalimantan Barat pada umumnya dan Kabupaten Pontianak pada khususnya serta adanya aspirasi yang berkembang dalam masyarakat, dipandang perlu meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan serta pembinaan masyarakat guna menjamin perkembangan dan kemajuan pada masa mendatang. Sehubungan dengan hal tersebut di atas dan memperhatikan perkembangan penduduk, luas wilayah, potensi ekonomi, sosial budaya, sosial politik dan meningkatnya beban tugas serta volume kerja di bidang penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan di Kabupaten Pontianak dipandang perlu membentuk Kabupaten Landak sebagai pemekaran dari Kabupaten Pontianak.



a. Batas Administrasi
Batas wilayah Kabupaten Landak terletak pada batas koordinat 0°10’ dan 1°10’ Lintang Utara dan 109°5’ - 110°10’ Bujur Timur. Sedangkan batas wilayah administrasi Kabupaten Landak adalah sebagai berikut :
- Sebelah Utara dengan Kabupaten Bengkayang
- Sebelah Selatan dengan Kabupaten Pontianak
- Sebelah Barat dengan Kabupaten Pontianak
- Sebelah Timur dengan Kabupaten Sanggau

b. Jumlah Penduduk dan Kepadatan
Berdasarkan hasil perhitungan BPS, jumlah penduduk kabupaten Landak sebesar 302.956 jiwa selama kurun waktu tahun 1990 - 2000 dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,92 % per tahun.

c.Intensitas Curah Hujan
Kabupaten Landak dapat dikategorikan sebagai daerah hujan dengan intensitas tinggi. Secara umum curah hujan rata-rata sebesar 160 mm per bulan. Intensitas curah hujan yang cukup tinggi kemungkinan dipengaruhi oleh daerah yang berhutan tropis.

d.Lapangan Pekerjaan
Pekerjaan yang banyak diusahakan oleh masyarakat di Kabupaten Landak adalah sektor pertanian (82,88%), diikuti oleh sektor perdagangan (5,36%) dan sektor-sektor lainnya seperti industri, konstruksi, angkutan, pertambangan, listrik, telekomunikasi dan lain-lain.

B.Morfologi

Berdasarkan peta topografi skala 1: 250.000 seri AMS, morfologi Kabupaten Landak umumnya merupakan pegunungan bergelombang hingga tinggi, dengan ketinggian bervariasi dengan puncak-puncak pegunungan mencapai diatas 1000 m diatas permukaan air laut, terutama ada dibagian utara. Sedangkan dibagian selatan, terutama disekitar kota Ngabang kearah selatan memperlihatkan morfologi dataran yang setempat berawa-rawa, dengan ketinggian 50 m diatas permukaan air laut


C.Struktur Geologi



Berdasarkan peta Geologi penampakan struktur geologi yang dapat diamati antara lain berupa lipatan berarah barat timur, terutama pada satuan batuan kelompok Bengkayang. Sedangkan pada batuan kelompok batupasir Kayan berkembang struktur gawir yang kemungkinan banyak terdapat air terjun, di bagian sisi barat pada satuan batuan gunung api banyak terdapat kelulusan yang berarah barat laut-tengara. Struktur kelulusan dan patahan berkembang di bagian timur, pada batuan beku berumur kapur, umumnya berarah barat Laut-Tenggara.



D.Litologi dan Kaitannya dengan Bahan Galian Industri

Berdasarkan peta geologi lembar Sanggau, wilayah Kabupaten Landak dapat diamati adanya 2 (dua) jenis batuan, yaitu Sedimen dan bahan gunungapi.

Batuan Sedimen yang terlihat dari umur muda ke tua adalah :
- Endapan Aluvium (Qa) terdiri dari : tumbuhan Lumpur, pasir dan sisa
- Batupasir Landak ( Tola ) terdiri dari: Batupasir kuarsa dan Litik, beberapa
konglomerat dan batu Lumpur merah kecoklatan, setempat karbonan.
- Batupasir Kayan ( TKk ) terdiri dari : Batupasir kuarsa dan kuarsa feldspar,
setempat kerakalan, sisipan batu lanau dan konglomerat, sedikit Batubara.
- Formasi Pendawan ( Kp ) terdiri dari : Batupasir, Batu Lanau, Batu
Lumpur, Serpih, Serpih Sabakan dan biasanya gampingan, Batupsir Kuarsa –
feldspar.



Sedangkan batuan gunungapi berturut-turut dari muda ke tua adalah :
- Batuan Gunungapi Niat ( Tpn ) terdiri dari : Andesit, Dasit dan Basal.
Sedikit konglomerat dan piroklastik.
- Batuan terobosan sintang (Toms) terdiri dari : Granodiorit, diorite kuarsa, andesit
piroksen dan dasit.
- Granodiorit Mensibau ( Klm ) terdiri dari : Granodiorit, Granodiorit
Hornblende Diorit Kuarsa, Granit dan Monzoit.
- Batuan Gunungapi Raya ( Tpn ) terdiri dari : Andesit, Dasit dan Basal.
sedikit konglomerat dan piroklastik.

II. POTENSI PENGEMBANGAN ALAM DAN SUMBER DAYA ALAM

WILAYAH FISIOGRAFIS

Kabupaten Landak termasuk dalam wilayah dataran rendah pegunungan Barat. Bagian Utara berbukit-bukit, ke Selatan merupakan daerah lembab atau dataran yang memudahkan melakukan sosial ekonomi.
Berdasarkan penyelidikan terdahulu di Kabupaten Landak mempunyai potensi bahan galian yang cukup banyak dan potensial dapat kita uraikan golongannya sebagai berikut :

STRUKTUR GEOLOGI DAN BATUAN
- Struktur geologi Kabupaten Landak termasuk dalam Zona C yaitu Daerah Kontinen Dataran Sunda. Kondisi Zona C di Kalimantan Barat kurang stabil, karena tidak mengalami Diastrofisma Tersier

- Sebagian besar Wilayah Kabupaten Landak mempunyai Batuan Instrusif dan Plutonik yang bersipat asam sampai basa.

- Batuan Kapur yang tersingkap pada bagian Timur Kabupaten terdiri dari suatu kompleks fragmen – fragmen dan irisan – irisan Kuarsit , mafik, ultramatik batu kapur dan batu pasir.

- Percampuran batuan – batuan ini terjadi akibat Perisai Sunda yang menahan bagian Samudera yang lebih padat dan lebih berat dari pada Kerak Bumi sewaktu bergerak ke arah Barat daya dan menekan bagian ini ke bawah.

- Pada Pegunungan Niut terbentuk atas berbagai struktur batuan, yaitu Plistosen – plistosen, Kapur dan Intrusif dan Plutonik Basa.

JENIS TANAH
- Jenis tanah Kabupaten Landak : Potsolik merah kuning ( Batuan Endapan ), Potsolik merah kuning ( Batuan Beku dan Endapan ), Potsolik merah kuning ( Batuan Beku ), Potsol ( Batuan Endapan ), Lotosol dan Organosol dan Glei Humus ( Bahan Aluvial )

- Jenis Tanah Podsolik merah kuning yang terbentuk dari bahan induk endapan, terdapat di Kecamatan Sengah Temila, Mempawah Hulu, Ngabang, Menyuke, Air Besar dan Kuala Behe, keadaan alami kesuburan tanah hanya terbatas pada lapisan berbahan Organik, tetapi i bila digunakan kurang seksama kesuburannya akan cepat menurun.

- Tanah Podsolik merah kuning terbentuk dari bahan induk Batuan Beku, banyak dijumpai di Kecamatan Mempawah Hulu, Mandor, Menjalin dan Ngabang.

- Podsolik merah kuning dari Batuan Beku dan Endapan banyak terdapat di daerah berbukit dan pegunungan lipatan seperti di pegunungan Niut, Kecamatan Meranti dan Ngabang.

- Jenis Tanah Podsol yang sebagian besar terdapat di Kecamatan Mandor dan Menjalin. Tanah jenis ini merupakan tanah bermineral yang mempunyai perkembangan profil dengan tekstur pasir kuarsa, sangat masam dan sangat kurus dimana kemampuan pertukaran Kation sangat rendah.

- Jenis Tanah Latosol terdapat bagian utara Kecamatan Menyuke yang terbentuk dari Fisiografi Vulkan yang berasal dari bahan induk batuan beku, warna tanahnya coklat kehitaman, terdrainase baik dan umumnya berstruktur halus dilapisan atas dan sedang dilapisan bawah.

- Jenis Tanah Organosol dan Glei Humus terdapat dikecamatan Mandor, Menjalin, dan sebagian Sengah Temila dan Sebangki. Jenis tanah ini mempunyai karakteristik yang tersusun dari bahan Organik atau campuran bahan mineral dan bahan ketebalan minimum 50 Cm dan mengandung paling sedikit 30 % dari bahan organik ( bila liat ) atau 20 % bila berpasir, kepadatan tanahnya kurang dari 0,6 dan selalu jenuh air, mudah mengerut dan tak balik, bila kering peka erosi dan mudah terbakar.


BEBERAPA BAHAN TAMBANG / GALIAN

1. Bahan galian golongan A yang terdiri dari :
Timah Hitam, informasi yang diperoleh umumnya masih sebagai indikasi, merupakan Mineral Galena ( pbs ) pengisi urat pada batuan sabak lampungan, terdapat bersama Emas dan Tembaga di wilayah Kecamatan Mandor.

2. Bahan galian golongan B yang terdiri dari :

a. Tembaga berbentuk Mineral Kolkopirit, Kakosi, Azurit dan Native ( Cu ) terdapat di Kecamatan Mandor ( penyelidikan Everwijn, 1960 )
b. Emas terdapat di Kecamatan Mandor, Ngabang, Air Besar, Menjalin dan Mempawah Hulu, umumnya masih dalam bentuk pertambangan rakyat.
c. Air Raksa, ditemukan sebagai Mineral Sinabar ( Hgs ) terdapat di Kecamatan Menyuke dan Air Besar.
d. Intan, terdapat dalam graval alivial terbeku ( Qat ) bersama emas di Kecamatan Air Besar, Kuala Behe dan Ngabang.
e. Bismut, penemuannya baru berupa indikasi pada urat – urat yang berasosiasi dengan Emas dan Perak terdapat di Kecamatan Menyuke dan Ngabang.
f. Biji Antimoni, masih dalam bentu subnit Sb 203 terdapat di Kecamatan Menyuke ( Everwijn, 1960 ).
g. Molibdonit, terdapat di Kecamatan Ngabang dan Mandor, dalam bentuk pengisian diantara urat – urat kuarsa dan berasosiasi dengan Kalkopirit.
h. Gambut terdapat di Kecamatan Sengah Temila.

3. Bahan Galian Golongan C yang terdiri dari ;

a. Pasir Kuarsa, terdapat di Kecamatan Mandor dan Sengah Temila
b. Koalin, terdapat di Kecamatan Mandor.
c. Granit, sebarannya terdapat di Kecamatan Ngabang dan Sengah Temila.
d. Andesitis, terdapat di Kecamatan Ngabang dan Sengah Temila.
e. Pasir ( putih dan kuning ) terdapat di Kecamatan Mandor, Sengah Temila, Menyuke, Ngabang, Air Besar dan Kuala Behe.

Cetak Halaman Ini

Baca selengkapnya......

Profil Dinas


DINAS PERTAMBANGAN DAN ENERGI 
KABUPATEN LANDAK




terletak di Jalan Raya Ngabang – Sanggau Dsn. Dengoan
Kode Pos 79357
N G A B A N G

Baca selengkapnya......
 
Info Pertambangan Landak, Kalbar - Templates para novo blogger